“sebelum cahaya purnama menguningkan usia,aku akan
menjauhimu,” katamu malam itu
Baik,menjauhlah dariku,menjauhlah
Sebab sebenarnya melalui celah kenangan aku selalu
mendekatimu
Sambil
menasbihkan darah dari seluruh kepergian yang alpa dikatakan puisi
Mengingat dirimu
sebagai gerimis yang gagal jatuh ke ceruk mataku
Hari hari yang
berlari di halaman kalender telah melahirkan sekaligus
Melarikan segala
hal di balik dadaku. Kepergianmu hanya dipahami
Pesan-pesan pendek yang membusuk dalam inbox ponsel,juga
percakapan
Kosong antara kita pada jeda usia yang terlalu susah untuk
dilupakan.
Padahal kita hanya bercerita tentang nama yang itu-itu
juga,ihwal perasaan
Yang pernah diucapkan oleh banyak orang
Menjauhlah,karena kita terlanjur tersesat dalam pembicaraan
tanpa daging
Tidak sengaja
terjebak dalam basa basi dan ilusi tentang rasa
Maka menjauhlah
dan sempurnalah engkau sebagai kenangan
-Rozi Kembara-