Maka Menjauhlah



“sebelum cahaya purnama menguningkan usia,aku akan menjauhimu,” katamu malam itu
Baik,menjauhlah dariku,menjauhlah
Sebab sebenarnya melalui celah kenangan aku selalu mendekatimu
Sambil menasbihkan darah dari seluruh kepergian yang alpa dikatakan puisi
Mengingat dirimu sebagai gerimis yang gagal jatuh ke ceruk mataku

Hari hari yang berlari di halaman kalender telah melahirkan sekaligus
Melarikan segala hal di balik dadaku. Kepergianmu hanya dipahami
Pesan-pesan pendek yang membusuk dalam inbox ponsel,juga percakapan
Kosong antara kita pada jeda usia yang terlalu susah untuk dilupakan.
Padahal kita hanya bercerita tentang nama yang itu-itu juga,ihwal perasaan
Yang pernah diucapkan oleh banyak orang

Menjauhlah,karena kita terlanjur tersesat dalam pembicaraan tanpa daging
Tidak sengaja terjebak dalam basa basi dan ilusi tentang rasa
Maka menjauhlah dan sempurnalah engkau sebagai kenangan


-Rozi Kembara-

Related Posts:

Meski Suaramu Masih


Memang kini kau telah jauh berjalan
Tak ada lagi yang perlu kau singgahi
Habis sudah rasamu di sini

Memang, tak perlu lagi kau lambaikan tangan
Buat selamat tinggal
Aku pun maklum kau tak bakal
Kembali ke sini

Tanda-tanda berkabung pun telah
Dibersihkan dari muka pintu dan rumah
Meski suaramu masih terngiang
Entah akan sampai kapan

Dan tak perlu air mata
Perpisahan, dan tak perlu

Selamat jalan!

sumber: puisi dari orang lain. Mohon maaf karena saya lupa 😢

Related Posts:

Berjumpa lagi


Seolah tuan tak berkutik lagi
Usai bergidik ngeri atas perjumpaan pertama kali
Diam terkulai di bawah rambutnya yang memutih
Bersama suai yang menggantung diri di depan tungku api
Oh,hangatnya diri, ketika terjerembab seraya
Mengemis puisi dan berdoa sepanjang hari
Menghumbankan sajak putih
Yang terus bergelanyut di teluk bibir basah,
Namun tiada arti lagi..
Merintih sunyi dan tak habis-habisnya mencari sepi
Agar semua perjalanan bisa diakhiri
Disini didepan tungku api
Merebahkan diri bak layunya
rumbai-rumbai jubah kyai..
Berdiam lagi.. menanti mati yang menggerayangi diri

Di depan serambi untuk bisa berjumpa lagi

Related Posts:

Aku terbang


aku meradang menerjang
mengorek luka yang terpendam
mengubur asa yang semakin hilang
dalam kenangan
aku terbang lalu jatuh lagi
menggapai takdir yang mati
aku terbang lalu jatuh lagi
mengais luka lama dan memperbaiki
aku terbang lalu jatuh lagi
aku berdiri tanpa menangis lagi
aku terbang dan jatuh berkali-kali
mengantar pada asa yang mengajak diri

untuk terbang tanpa takut jatuh lagi

Related Posts: